Laman

Minggu, 29 November 2015

Mengapa Allah mengutus nabi kpd umat yang sudah beriman kepada Allah?

Apakah benar penduduk musyrikin Mekkah sudah beriman kepada Allah sebelum nabi Muhammad menjadi rasul? jawabannya Ya.
Kalau dari sisi sejarah terbukti dengan nama ayahanda nabi bernama Abdullah yang artinya 'hamba Allah'. berarti penduduk Mekkah sudah mengenal nama "Allah".

kalau dalam nash alquran kita lihat ayat dibawah ini Luqman:25 dan Yunus:31 

kaum musyrikin Mekkah sudah beriman kepada Allah sebagai Tuhan pencipta alam semesta, Sama seperti umat kristen kalau ditanya siapa pencipta alam semesta? Mereka tidak akan menjawab yesus.

Jadi beriman kepada Allah adalah satu hal, tetapi menyekutukanNya adalah hal kemungkaran luar biasa sebagai dosa terbesar NO.1 

Kaum musyrikin Mekkah tidak menyebut berhala mereka sebagai tuhan, seperti yang tertera di Azzumar ayat 3. Bahwa mereka tidak merasa bahwa mereka menyembah berhala, melainkan mereka berbuat begitu sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah.


Musyrikin Mekkah memang tidak menganggap berhala mereka sebagai tuhan, melainkan mereka berbuat syirk dengan memuliakan makhluk-makhluk gaib sepeti malaikat yang mereka yakini sebagai anak-anak Allah, dan juga memuliakan roh-roh orang mati seperti Latta, Uzza, Manat dan Hubal yang diabadikan dalam patung-patung seperti monumen lalu mereka muliakan patung tsb.

Maka harus diwaspadai jika ada yang merasa beriman kepada Allah, tapi masih mengkultuskan benda-benda keramat, seperti foto/gambar/patung, keris, kuburan, pohon, dll. Karena Rasulullah susah payah berdakwah 10 tahun di Mekkah cuma untuk meluruskan aqidah manusia... karena itu tujuan utama Allah mengutus rasulNya.



Selasa, 10 November 2015

Apakah status orang tua rasulullah?

Banyak muslim yang mencela muslim lain karena kurangnya ilmu. Dianggap kelompok lain menyesat-nyesatkan orang tua rasulullah assholaatu wassalam alaih.
Padahal di dalam beberapa hadits shahih sudah dinyatakan. Salah satunya hadits dibawah ini

Hadits diatas adalah shahih Muslim #1621 dari Abu hurairah, Rasulullah bersabda: "aku mohon izin kepada Rabb-ku untuk memohon ampun bagi ibuku, tapi tidak diizinkan. Tapi kemudian aku minta izin untuk menziarahi kuburnya maka aku diizinkan.


Hadits diatas adalah shahih muslim #302, ada juga di riwayat Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Imam Ahmad bin hambal, Abu Ya'la, Ibnu Hibban, Ibnu syaibah, Abu awanah, Imam baihaqi dan sepakati shahih.
Ada seorang lelaki bertanya kepada nabi tentang dimana ayahnya berada. Nabi menjawab di neraka. ketika lelaki itu pergi nabi memanggilnya kembali lalu bersabda kepada lelaki tsb "Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di neraka"


Hadits diatas adalah riwayat imam Abu daud #4095 dengan jalur sanad berbeda dari shahih muslim
"Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad dari Tsabit dari Anas berkata, "Seorang laki-laki berkata, "Wahai Rasulullah, dimanakah bapakku?" beliau menjawab: "Bapakmu ada di neraka." Ketika laki-laki itu berlalu pergi, beliau bersabda: "Sesungguhnya bapakku dan bapakmu ada di dalam neraka."


سنن ابن ماجه ١٥٦٢: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ بْنِ الْبَخْتَرِيِّ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِي كَانَ يَصِلُ الرَّحِمَ وَكَانَ وَكَانَ فَأَيْنَ هُوَ قَالَ فِي النَّارِ قَالَ فَكَأَنَّهُ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَيْنَ أَبُوكَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ مُشْرِكٍ فَبَشِّرْهُ بِالنَّارِ
قَالَ فَأَسْلَمَ الْأَعْرَابِيُّ بَعْدُ وَقَالَ لَقَدْ كَلَّفَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَبًا مَا مَرَرْتُ بِقَبْرِ كَافِرٍ إِلَّا بَشَّرْتُهُ بِالنَّارِ

Sunan Ibnu Majah 1562: Seorang arab badui datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya, "Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku telah menyambung silaturrahim, dan telah melakukan ini dan ini, lalu di manakah tempatnya?" Rasulullah menjawab: "Di neraka. " Ibnu Umar berkata, "Seakan-akan laki-laki badui itu marah dengan jawaban beliau. Kemudian ia bertanya lagi, "Ya Rasulullah, di mana ayahmu?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Di mana saja kamu melewati kuburan orang musyrik, maka berilah kabar gembira dengan neraka. " Ibnu Umar berkata, "Laki-laki badui itu kemudian masuk Islam, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberiku tugas yang berat, tidaklah aku melewati kuburan orang kafir melainkan aku beri kabar gembira kepadanya dengan neraka. "


hadits diatas Musnad Ahmad (imam ahmad bin hambal) #11747: Telah menceritakan kepada kami Waki' dari Hammad dari Tsabit dari Anas ia berkata; Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Dimanakah bapakku nanti di akhirat?" beliau menjawab: "Di neraka!" Anas berkata; Ketika beliau melihat raut wajahnya, beliau pun bersabda: "Sesungguhnya bapakku dan bapakmu sama-sama di neraka."

Sunan Abu Daud 2815: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam datang ke kuburan ibunya, kemudian beliau menangi, dan orang-orang yang ada di sekitarnya menangis. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya aku telah meminta izin kepada Tuhanku ta'ala untuk memintakan ampunan baginya, namun aku tidak diperkenankan. Lalu aku meminta izin untuk mengunjungi kuburannya, lalu Dia memberiku izin. Maka ziarahilah kubur, karena sesungguhnya kuburan tersebut akan mengingatkanmu kepada kematian."

Musnad Ahmad 21960: (terjemah yang dikotak merah)  Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam perang saat penaklukkan Makkah lalu beliau pergi berjalan menuju kuburan, saat sudah dekat beliau duduk sepertinya beliau tengah berbicara dengan seseorang, beliau duduk dan menangis kemudian 'Umar bin Al Khaththab mendatangi beliau, ia bertanya: Apa gerangan yang membuat baginda menangis? Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku memintakan ampunan untuk ibuku pada Rabbku AzzaWaJalla tapi Ia tidak mengizinkanku, aku pun bercucuran air mata karena iba padanya."
Riwayat Ibnu Majah 1561: dari Abu Hurairah ia berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menziarahi kuburan ibunya, beliau menangis hingga menjadikan orang-orang yang ada di sekitarnya ikut menangis. Beliau lalu bersabda: "Aku minta izin Rabbku untuk memintakan ampun bagi ibuku namun Ia tidak memberiku izin. Lalu aku minta izin untuk menziarahi kuburnya dan Ia memberiku izin. Maka ziarahilah kuburan karena hal itu dapat mengingatkan kepada kematian. "

Riwayat anNasa'i no.2007: dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah menziarahi kuburan ibunya, lalu beliau menangis dan menjadikan orang-orang di sekitarnya ikut menangis, kemudian beliau bersabda: "Aku telah meminta izin kepada Rabbku -Azza wa Jalla- untuk meminta ampunan baginya, tetapi Allah tidak mengizinkanku dan ketika aku meminta izin untuk menziarahi kuburannya, Dia mengizinkanku. Maka berziarahlah kalian ke kuburan, karena hal itu dapat mengingatkan kalian akan kematian."


Hal yang sama ketika nabi mohon ampun untuk pamannya (abu thalib) yang meninggal dalam keadaan bukan islam, tidak diperbolehkan oleh Allah. Seperti yang tertera dalam al-quran (Attaubah:113). Dengan asbabun nuzul berikut ini:
Shahih Bukhari 3595: ketika menjelang wafatnya Abu Thalib (paman nabi), Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masuk menemuinya sementara di sampingnya ada Abu Jahal. Beliau berkata: "Wahai pamanku, katakanlah laa ilaaha illallah. Suatu kalimat yang akan aku pergunakan untuk menyelamatkan engkau di sisi Allah". Maka berkata Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah; "Wahai Abu Thalib, apakah kamu akan meninggalkan agama 'Abdul Muthallib?". Keduanya terus saja mengajak Abu Thalib berbicara hingga kalimat terakhir yang diucapkannya kepada mereka adalah dia tetap mengikuti agama 'Abdul Muthallib. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku akan tetap memintakan ampun untukmu selama aku tidak dilarang". Maka turunlah firman Allah Ta'ala (dalam QS AT-Taubah ayat 113 yang artinya: "Tidak patut bagi Nabi dan orang-orang beriman untuk memohonkan ampun bagi orang-orangmusyrik sekalipun mereka itu adalah kerabat-kerabat mereka setelah jelas bagi mereka bahwa mereka adalah penghuni neraka jahim.."). Dan turun pula firman Allah Ta'ala dalam QS al Qashsash ayat 56 yang artinya: ("Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai...") 


صحيح البخاري ٣٥٩٤: حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ قَالَ هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ وَلَوْلَا أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الْأَسْفَلِ مِنْ النَّارِ

Shahih Bukhari 3594: Al 'Abbas bin 'Abdul Muthallib radliallahu 'anhu, dia berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; "Mengapa engkau tidak menolong pamanmu padahal dia yang melindungimu dan marah demi membelamu?". Beliau bersabda: "Dia berada di tepian neraka. Seandainya bukan karena aku, dia tentu sudah berada di dasar neraka".


Ada yang berkilah bahwa ucapan nabi "ayahku di neraka" sebenarnya menishbatkan kapada pamannya, dan bukan ayahnya. Padahal dalam hadits berikut ini nabi jelas menyebut pamannya dengan sebutan "pamanku"


صحيح البخاري ١٢٧٢: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ
لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي طَالِبٍ يَا عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيَعُودَانِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ
{ مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ }
الْآيَةَ

Shahih Bukhari No.1272: Ketika menjelang wafatnya Abu Tholib, Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam mendatanginya dan ternyata sudah ada Abu Jahal bin Hisyam dan 'Abdullah bin Abu Umayyah bin Al Mughirah. Maka Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam berkata, kepada Abu Tholib: "Wahai pamanku katakanlah laa ilaaha illallah, suatu kalimat yang dengannya aku akan menjadi saksi atasmu di sisi Allah". Maka berkata, Abu Jahal dan 'Abdullah bin Abu Umayyah: "Wahai Abu Thalib, apakah kamu akan meninggalkan agama 'Abdul Muthalib?". Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam terus menawarkan kalimat syahadat kepada Abu Tholib dan bersamaan itu pula kedua orang itu mengulang pertanyaannya yang berujung Abu Tholib pada akhir ucapannya tetap mengikuti agama 'Abdul Muthalib dan enggan untuk mengucapkan laa ilaaha illallah. Maka berkatalah Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam: "Adapun aku akan tetap memintakan ampun buatmu selama aku tidak dilarang". Maka turunlah firman Allah subhanahu wata'ala tentang peristiwa ini: ("Tidak patut bagi Nabi …") dalam QS AT-Taubah ayat 113).



صحيح البخاري ٣٥٩٥: حَدَّثَنَا مَحْمُودٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ
أَنَّ أَبَا طَالِبٍ لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ دَخَلَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ أَبُو جَهْلٍ فَقَالَ أَيْ عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَالَا يُكَلِّمَانِهِ حَتَّى قَالَ آخِرَ شَيْءٍ كَلَّمَهُمْ بِهِ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ فَنَزَلَتْ
{ مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ }
وَنَزَلَتْ
{ إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ }

Shahih Bukhari No. 3595: ketika menjelang wafatnya Abu Thalib, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masuk menemuinya sementara di sampingnya ada Abu Jahal. Beliau berkata: "Wahai pamanku, katakanlah laa ilaaha illallah. Suatu kalimat yang akan aku pergunakan untuk menyelamatkan engkau di sisi Allah". Maka berkata Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah; "Wahai Abu Thalib, apakah kamu akan meninggalkan agama 'Abdul Muthallib?". Keduanya terus saja mengajak Abu Thalib berbicara hingga kalimat terakhir yang diucapkannya kepada mereka adalah dia tetap mengikuti agama 'Abdul Muthallib. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku akan tetap memintakan ampun untukmu selama aku tidak dilarang". Maka turunlah firman Allah Ta'ala dalam QS AT-Taubah ayat 113 yang artinya: ("Tidak patut bagi Nabi dan orang-orang beriman untuk memohonkan ampun bagi orang-orangmusyrik sekalipun mereka itu adalah kerabat-kerabat mereka setelah jelas bagi mereka (kaum mu'minin) bahwa mereka adalah penghuni neraka jahim.."). Dan turun pula firman Allah Ta'ala dalam QS al Qashsash ayat 56 yang artinya: ("Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai...")


مسند أحمد ١٩٠٤: حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ يَعْنِي الْأَعْمَشَ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُمَارَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
مَرِضَ أَبُو طَالِبٍ فَأَتَتْهُ قُرَيْشٌ وَأَتَاهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ وَعِنْدَ رَأْسِهِ مَقْعَدُ رَجُلٍ فَقَامَ أَبُو جَهْلٍ فَقَعَدَ فِيهِ فَقَالُوا إِنَّ ابْنَ أَخِيكَ يَقَعُ فِي آلِهَتِنَا قَالَ مَا شَأْنُ قَوْمِكَ يَشْكُونَكَ قَالَ يَا عَمِّ أُرِيدُهُمْ عَلَى كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ تَدِينُ لَهُمْ بِهَا الْعَرَبُ وَتُؤَدِّي الْعَجَمُ إِلَيْهِمْ الْجِزْيَةَ قَالَ مَا هِيَ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَامُوا فَقَالُوا أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا قَالَ وَنَزَلَ
{ ص وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ فَقَرَأَ حَتَّى بَلَغَ إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ }
و حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا عَبَّادٌ فَذَكَرَ نَحْوَهُ و قَالَ أَبِي قَالَ الْأَشْجَعِيُّ يَحْيَى بْنُ عَبَّادٍ

Riwayat Imam Ahmad (Musnad Ahmad No.1904): Abu Thalib menderita sakit, lalu orang-orang Quraisy menjenguknya. Demikian juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dan didekat kepalanya ada satu tempat duduk, lalu duduklah Abu Jahal disitu. Kemudian mereka berkata; Sesungguhnya anak saudaramu mencela tuhan-tuhan kami. Abu Thalib berkata; Kenapa kaummu mengadukanmu? Rasulullah menjawab: "Wahai pamanku, aku menginginkan mereka berada pada satu kalimat yang orang-orang arab nanti berpegang padanya. Dan orang-orang non arab nanti akan membayar jizyah kepada mereka. Abu Thalib bertanya: Kalimat apakah itu? Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'LAA ILAAHA ILLALLAH' (Tiada ilah yang berhak disembah selain Allah). Maka orang-orang Quraisy pun berdiri seraya berkata; 'Apakah engkau hendak menjadikan tuhan-tuhan yang banyak itu jadi satu saja? ' Ibnu Abbas berkata: maka turunlah ayat: "Shaad, Wal Qur'ani Dzidz Dzikr". lalu beliaupun membacakannya hingga sampai pada ayat; "Inna Hadza lasyai'un Ujaab" (QS. Shaad: 1-5). Dan Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah Telah menceritakan kepada kami Al A'masy Telah menceritakan kepada kami Abbad -lalu ia menyebutkan redaksi yang serupa.- Dan Bapakku berkata; Al Asyja'i berkata Yahya bin Abbad.

Dalam kitab syarah Shahih Muslim Imam Nawawi (Shahih Muslim bi syarhin Nawawi), seorang ulama syafi'iyah juga mensyarahkan hadits tsb (tentang ucapan nabi ayahnya di neraka) di Juz.3 halaman 97 berikut ini

Artinya: "bahwa orang yang meninggal dunia dalam keadaan kafir, maka dia akan masuk neraka. Dan kedekatannya dengan orang-orang yang mendekatkan diri (dengan Allah) tidak memberikan manfaat kepadanya. Selain itu, hadits tersebut juga mengandung makna bahwa orang yang meninggal dunia pada masa dimana bangsa Arab tenggelam dalam penyembahan berhala, maka diapun masuk penghuni neraka. Hal itu bukan termasuk pemberian siksaan terhadapnya sebelum penyampaian dakwah, karena kepada mereka telah disampaikan dakwah Ibrahim dan juga para Nabi yang lain shalawaatullaah wa salaamuhu ‘alaihim"

Dan tidak ada istilah ahlul fatrah pada penduduk Mekkah, karena mereka telah memiliki beberapa kitab-kitab dari nabi-nabi sebelumnya yang berisi ajaran tauhid. Dan diantara mereka juga terdapat ahli dalam memahami kitab2 tsb, salah satunya Waraqah bin naufal (sepupu Khadijah) yang pertama mengakui kerasulan Muhammad

Juga Allah telah berfirman dalam Fathir:24

إِنّا أَرسَلنٰكَ بِالحَقِّ بَشيرًا وَنَذيرًا ۚ وَإِن مِن أُمَّةٍ إِلّا خَلا فيها نَذيرٌ

"Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. "

Inti dari semua ini adalah bahwa keturunan tidak menjamin akan ridha/murka Allah.
Allah maha berkehendak, Ia bisa memuliakan atau menyesatkan siapa yang Ia kehendaki tidak pandang keturunan siapa. Kita tau bagaimana kisah putra nabi Adam yg membunuh saudaranya, juga putra nabi Nuh yang kufur di Al-quran, sedangkan mereka putranya seorang nabi. Dan keturunan nabi ya'qub (bani israil) yang di alquran digambarkan umat yang sering membangkang hingga sekarang terkumpul di Israel.

Begitu juga sebaliknya, meski orang musyrik tapi Allah bisa berkehendak anaknya menjadi nabi, seperti yang terjadi kepada ayah Nabi Ibrahim bernam Azar, pembuat dan penyembah berhala kerajaan babilonia tapi puteranya (Ibrahim) bisa menjadi bapak moyang para nabi. <Kisah ayah nabi ibrahim ada di Al-an'am : 74>
"Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: ""Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata""." 

Karena Allah berfirman, "yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertaqwa" dan bukan siapa keturunan siapa. Dan firman Allah dan nabiNya adalah diatas segala-galanya. Meskipun tidak sesuai dengan perasaan, kita tetap wajib mengimaninya. Dan bukan memaksa memelintir takwil untuk pembenaran perasaan.

Namun ada beberapa kelompok yang mencoba memanipulasi sejarah bahwasanya Azar dalam al-quran itu sebenarnya bukan ayah ibrahim, melainkan pamannya
Padahal dalam hadits shahih Rasulullah juga menyebutkan bahwa Azar itu memang ayah kandung Ibrahim. seperti hadits dibawah ini

Hadits diatas dari shahih Bukhari #3101 Rasulullah bersabda bahwa nabi Ibrahim bertemu dengan ayahnya bernama Azar di hari kebangkitan. Begitu juga nabi Ibrahim berkata kepada Allah dengan menyebut "ayahku"...  Tidak mungkin dalam hari peradilan seseorang menyebut pamannya dengan sebutan ayahku pada hari dimana tidak ada kedustaan sama sekali. Apalagi dikatakan oleh orang sholih seperti nabi Ibrahim

 Begitu juga firman Allah di as-shu'ara (26) ayat 70 yang menyebut "ayahnya". Ketika Allah menyebut ayahnya tapi orang menafsirkan dengan "paman" maka tentu mengingkari firman Allah dan mengingkari nasab Nabi ibrahim. Karena tidak ada satupun dalil/bukti tentang ayah kandung nabi Ibrahim selain yang ada di kitabullah dan sunnaturrasul.

Pertanyaan: Tapi mengapa nabi Ibrahim mendo'akan kedua orang tuanya di Ibrahim:41 ?
Jawaban:  Karena nabi Ibrahim sekedar memenuhi janjinya untuk mendo'akan ayahnya yang tertera di Maryam:47 dan Attaubah:114

Ada yang berpendapat ayah kandung Ibrahim bernama Terah/Tarikh. Padahal pendapat tersebut diambil dari ahlul kitab, yakni kitab Yahudi dan Nasrani. Dalam kitab mereka, ayah Ibrahim bernama Tareh, dan itupun disebutkan juga penyembah selain Allah. Kita bisa lihat di kitab nasrani sekarang berikut ini

Yosua 24:2 >> Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu: "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain.

Kejadian 11:27  >> Inilah keturunan Terah. Terah memperanakkan Abram, Nahor dan Haran, dan Haran memperanakkan Lot.

Lukas 3:34 >>  anak Yakub, anak Ishak, anak Abraham, anak Terah, anak Nahor,

Jadi sangat janggal kalau seorang muslim berlandaskan kitab umat lain, sedangkan Allah sudah memberi informasi melalui Al-quran

Dan ada juga yang berkilah bahwa kata "abi" disitu tidak selalu ayah, melainkan paman. Sedangkan mereka tidak bisa memberi hujjah yang shahih tentang alasan tsb. Padahal banyak ayat2 di alquran yang mencantumkan kata 'Abu' yang maknanya memang 'Ayah' seperti pada ayat berikut ini

  • Annur:61  >>>  بُيوتِ ءابائِكُم
  • Al-qashas:23 puteri nabi Syu'aib yang berkata tentang ayahnya >>> وَأَبونا شَيخٌ كَبيرٌ
  • Yusuf:8 perkatan putra2 nabi Ya'qub tentang ayah mereka >>> إِنَّ أَبانا
  • dan masih banyak lagi, Dan tidak ada satupun ayat alquran yang mencantumkan kata "abu" lalu dimaknai selain ayah
Perkara kedua orang tua nabi di neraka atau surga kita serahkan saja kepada Allah. Tapi jangan pula mengingkari firman dan sabda nabiNya.  Dan ada yang berhujjah bahwa kedua orang tua nabi adalah "ahlul fatroh" dan tidak akan disiksa di neraka berdalilkan al-isra:15. Sedangkan diketahui diantara penduduk Mekkah sudah ada penganut millah Ibrahim (agama tauhid) berpedoman dengan kitab-kitab nabi sebelumnya. Tidak bisa semua musyrikin sebelum kelahiran nabi adalah dianggap ahlul fatrah. Sekarang kita lihat hadits dibawah ini

صحيح البخاري ٤٢٥٨: حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي يَعْقُوبَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْكَرْمَانِيُّ حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُ جَهَنَّمَ يَحْطِمُ بَعْضُهَا بَعْضًا وَرَأَيْتُ عَمْرًا يَجُرُّ قُصْبَهُ وَهْوَ أَوَّلُ مَنْ سَيَّبَ السَّوَائِبَ

Shahih Bukhari 4258: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku melihat penghuni Jahannam sebagiannya saling mematahkan (menindih) sebagian yang lain dan aku melihat Amru bin Amir Al Khuza'i menyeret ususnya di neraka." Ia adalah orang pertama yang membuat unta sa`ibah."

Amru bin Amir Al Khuza'i adalah pelopor perbuatan khurafat di mekkah sebelum kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu unta Saibah. Unta yang tidak dipekerjakan, tidak disembelih, atas nama memuliakan berhala2 mereka. Nabi melihatnya di neraka.

Begitu juga tentang anak-anak dari Khadijah sebelum menikah dengan Rasulullah, Rasul menyatakan mereka di neraka seperti hadits dibawah ini


مسند أحمد ١٠٧٦: حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ زَاذَانَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
سَأَلَتْ خَدِيجَةُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ وَلَدَيْنِ مَاتَا لَهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُمَا فِي النَّارِ قَالَ فَلَمَّا رَأَى الْكَرَاهِيَةَ فِي وَجْهِهَا قَالَ لَوْ رَأَيْتِ مَكَانَهُمَا لَأَبْغَضْتِهِمَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَلَدِي مِنْكَ قَالَ فِي الْجَنَّةِ قَالَ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُؤْمِنِينَ وَأَوْلَادَهُمْ فِي الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمُشْرِكِينَ وَأَوْلَادَهُمْ فِي النَّارِ ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
{ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّاتِهِمْ }

Musnad Ahmad 1076: Khadijah bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang dua anaknya yang meninggal di masa jahiliyah. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Keduanya berada di dalam neraka." Ketika beliau melihat wajahnya yang menunjukkan tidak suka beliau bersabda: "Seandainya kamu melihat tempat keduanya, pasti kamu akan marah kepada keduanya." Khadijah bertanya; "Wahai Rasulullah, bagaimana anakku yang darimu?" beliau menjawab; "Di dalam Syurga." Ali berkata; Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang-orang mukmin dan anak-anak mereka berada di syurga dan orang-orang musyrik dan anak-anak mereka berada di Neraka." lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membaca ayat: (Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka.)



Lihat juga pendapat para ulama tafsir tentang Attaubah ayat 113 yang bersinggungan dengan hal ini



Para sahabat tidak pernah ziarah ke makam nabi untuk mengharap berkah

Hadits diatas adalah matan hadits shahih Bukhari #1244 yang menceritakan ketika Rasulullah sakit sebelum ajalnya bersabda, "Allah melaknat Yahudi dan Nasrani karena menjadikan kuburan nabi mereka sebagai tempat ibadah" (kemudian) Aisyah berkata, "Kalau bukan karena sabda beliau itu, tentu kuburan nabi akan dipindahkan, tapi saya tetap khawatir bahwa suatu saat akan dijadikan masjid.

Tetapi kalau kita lihat kondisi sekarang di masjid nabawi terdapat makam nabi, sebenarnya bukan sengaja membangun masjid di atas makam nabi, melainkan karena perluasan masjid nabawi. Karena posisi makam nabi yang berada dalam rumah Aisyah menempel dinding dengan masjid

Inti dari semua point diatas adalah, nabi melarang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Terutama kuburan orang yang kita idolakan atau disucikan yang beresiko akan membatalkan aqidah kita. Karena ketika nabi diutus ditengah-tengah penduduk mekkah, mereka sudah mengenal Allah sebagai pencipta alam semesta, tapi mereka masih mengkultuskan orang-orang sholeh yang telah meninggal dunia yang diabadikan dalam rupa patung. Orang-orang tsb bernama latta, uzza, manat dan hubal

Dalam Wikipedia penjelasan tentang sosok Laata

Lātta
Menurut riwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Rabi’ bin Anas mereka membaca (الاَّتَ) dengan ditasydidkan taa (تَّ) dan mereka menafsirkannya dengan “Seseorang yang mengadoni gandum untuk para jamaah haji pada masa jahiliyyah. Tatkala dia meninggal, mereka i’tikaf di kuburannya lalu menyembahnya.” Mujahid berkata: “Al Lātta adalah orang yang dahulunya tukang mengaduk tepung gandum (dengan air atau minyak) untuk dihidangkan kepada jamaah haji. setelah meninggal, merekapun senantiasa mendatangi kuburannya.”

Imam Al-Bukhari mengatakan, Telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas berkata tentang firman Allah “Al-Lātta dan Al-’Uzza.”: “Al-Lātta adalah seseorang yang menjadikan gandum untuk para jamaah haji.”[1]

Syaikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan berkata, Lātta dengan dobel huruf "t" sebagai isim fa’il (Lātta) berasal dari kata kerja latta-yaluttu. Dia (Lātta) adalah seorang lelaki yang shalih yang biasa mengadon tepung untuk memberi makan jama’ah haji. Ketika dia meninggal, orang-orang pun membangun sebuah rumah di atas kuburannya, dan menutupinya dengan tirai-tirai. Akhirnya mereka menyembahnya sebagai sekutu selain Allah.

Senin, 02 November 2015

Pengharaman nikah mut'ah

Dalam kepercayaan syi'ah, nikah mut'ah (kawin kontrak hitungan waktu tanpa batas minimum) di halalkan dengan merujuk kepada perbuatan sahabat, padahal pernikahan tsb sudah diharamkan oleh nabi
berikut ini dalilnya

hadits diatas dari shahih Muslim #2509 bahwa Rasulullah melarang pernikahan mut'ah dengan berkata: ketahuilah bahwa itu (nikah mut'ah) adalah haram mulai hari ini sampai hari kiamat. (tapi) siapa yang telah memberikan sesuatu kepada wanita itu, jangan mengambilnya kembali.

hadits diatas dari shahih Muslim #2507 bahwa Rasulullah mengharamkan nikah mut'ah ketika penaklukan Mekkah


hadits diatas dari shahih Muslim #2508 (terjemah yang bergaris merah) Ibnu abi amrah al-anshari berkata: nikah mut'ah pernah diperbolehkan dalam permulaan islam karena terpaksa, sebagaimana bolehnya makan bangkai, darah dan daging babi. Namun Allah telah menetapkan hukum agamaNya dan melarangnya.

Bagi kaum syiah yang sangat mengagungkan Ali bin abi thalib, padahal beliau juga mengharamkan mut'ah seperti hadits dibawah ini:

hadits diatas dari shahih Muslim #2510 dari Ali bin abi thalib bahwa dalam perang Khaibar rasulullah sudah melarang nikah mut'ah. Itupun yang dikatakan Ali ketika berkata dengan seorang lelaki

hadits diatas dari shahih Bukhari #5098 dari Ali bin thalib bahwa dalam perang Khaibar rasulullah sudah melarang nikah mut'ah dan makan daging keledai


hadits diatas dari shahih Bukhari #3894 juga dari Ali bin thalib tapi dengan sanad yang berbeda. dalam perang khaibar Rasululllah melarang nikah mut'ah dan makan daging keledai


hadits diatas dari shahih Bukhari #4725 dari Ali bin abi thalib bahwa status nikah mut'ah sudah mansukh (dibatalkan)


hadits diatas riwayat Abu daud #1775 Rasulullah telah mengharamkan menikahi wanita dengan cara mut'ah


hadits diatas riwayat Abu daud #1774 Rasullah telah melarang nikah mut'ah ketika melakukan haji wada (haji terakhir sebelum beliau wafat)

hadits diatas riwayat Imam tirmidzi #1040 bahwasanya dulu ibnu abbas pernah membolehkan mut'ah, tapi beliau mencabut pendapatnya setelah mendapat kabar dari nabi. Dan imam tirmidzi berpendapat bahwa pengharaman mut'ah telah disepakati paa ulama seperti imam as-syafiie, imam ahmad, sufyan atsauri, ibnu mubarak, dan ishaq