Laman

Rabu, 27 Januari 2016

kalimat sesat dalam kitab Al-barzanji

Ada sebuah syair atau nyanyian yang diawali dengan sholawat. Biasanya dilantunkan ketika walimah aqiqah, perayaan hari ulang tahun nabi, dsb.
"yaa nabii salam alaika, ya rasul salam alaika... dan seterusnya"

orang biasa menyebutnya sholawat barzanji. Memang awalnya kalimat yg baik, kalimat sholawat, tapi syair-syair selanjutnya terlihat ghuluw (memuji berlebihan) dan bahkan mengandung kesyirikan, karena kalimatnya berdo'a kepada nabi, sedangkan do'a wajib hanya ditujukan kepada Allah. Belum lagi khurafat yang dihembuskan faham sufi bahwa ketika melantunkan sholawat tsb bisa jadi ruh nabi sedang hadir, maka dianjurkan melantunkan bersama-sama sambil berdiri.

Karena islam yang pertama kali menebar di tanah indonesia adalah jenis tasawwuf, yang identik dengan nyanyian, musik dan tarian, juga syair-syair yang berlebihan, hingga banyak orang awam salah kaprah dengan makna sholawat, bahwa sholawat itu adalah lantunan atau nyanyian pujian kepada nabi. Padahal sholawat adalah kalimat do'a yang dikhusus untuk nabi shallallaahu alaihi wasallam seperti yg diajarkan kepada para sahabat dalam banyak hadits

Dan sekarang banyak masyarakat awam banyak yg tidak faham dengan syair tsb, sekedar ikut-ikutan dan karena berbahasa arab dan diawali sholawat maka terlihat baik, meski faktanya dicampur dengan kalimat-kalimat yang bisa merusak aqidah. Ironisnya banyak yang tidak kenal siapa orang yang menciptakan syair tsb, dia bukanlah ulama, dan tidak ada karya bukunya yg menjadi rujukan para ahli ilmu, selain buku sya'ir/kidung seperti al-barzanji.


Dalam surah Al-ahqaf: 5 Allah telah berfirman sbb:

"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdo'a kepada selain Allah yang tidak dapat mengabulkan (doa) nya sampai hari kiamat, sedangkan mereka (yang diminta) lalai terhadap do'a mereka (yang meminta) "

Sekarang mari kita teliti tampilan halaman di kitab tsb berikut ini:



Terjemahnya dibawah ini

engkau adalah penutup para utusan, engkau adalah orang yang paling banyak bersyukur kepada Allah
hambamu yang miskin mengharapkan, Karuniamu (wahai nabi) yang sangat banyak
Padamu aku telah berbaik sangka, Wahai pemberi kabar gembira dan Pemberi Peringatan
Maka tolonglah aku, dan selamatkan aku, Wahai penyelamat dari neraka sa'ir
Wahai penolongku dan tempat berlindungku, Dalam perkara-perkara besar dan berat yang menimpaku
Berbahagialah dan hilanglah kesusahan hamba yang senang kepadamu.
Wahai bulan purnama yang nampak terang bagimu sifat yang indah
Tiada orang yang orang tuanya lebih suci darimu sama sekali wahai kakek Hasan dan Husain.
Bagimu sholawat Allah selamanya sepanjang masa. Wahai pemilik kebaikan wahai pengangkat derajat
Hapuskanlah dosa-dosaku dan ampuni kesalahan-kesalahanku
Engkau adalah Pengampun kesalahan kesalahan dan dosa yang merusakkan.
Engkau adalah Yang Menutupi kejelekan dan menyelamatkan dari kesalahan.


Dari konteks terjemah diatas, apakah wajar kita mengucap hal demikian? kalau disandingkan dengan firman Allah di Al-ahqaf: 5 tadi
Karena satu-satunya tempat untuk berdo'a adalah cuma kepada Allah.
Jangan sampai aqidah kita cacat hanya karena mengikuti tradisi yang kita tidak tau apa yg terkandung dalam tradisi tsb. Karena inti dari keislaman yang sempurna adalah aqidah yang lurus... selebihnya adalah hal yang bukan prinsip (furu'iyyah)

Bersholawat sesungguhnya adalah mendo'akan nabi, dan bukan memuji-muji. Seperti kalimat yang diajarkan nabi. Kenapa mendoakan nabi? Lihat penjelasannya di halaman lain tentang apa itu sholawat


Semoga bermamfaat

Sabtu, 23 Januari 2016

Kenapa Allah menyebut 'Kami' didalam alquran?

Didalam ayat-ayat tentang penciptaan dan segala proses alam termasuk penyampaian wahyu, Allah kadang menyebut 'Kami' karena dalam proses tsb juga melibatkan unsur alam lain seperti malaikat atau elemen alam atas kehendakNYA, mulai dari yang tidak terlihat seperti atom, molekul, electron, proton dll hingga yang berukuran besar seperti bulan, matahari, dll yang semua berproses atas kehendak dan perintah Allah SWT. 

 Tetapi Allah juga kadang menggunakan kata 'AKU' dalam penciptaan untuk menegaskan bahwa bagaimanapun semua proses alam tsb berdasarkan kehendakNya. Seperti dalam ayat "Tidak AKU ciptakan jin dan manusia selain untuk ibadah (menghamba) kepadaKu"

Lain halnya dalam hal penghambaan, berdoa dan menyembah, Allah tidak pernah menyatakan dengan kata 'Kami' Tidak ada satupun ayat dalam alquran yang mencantumkan kalimat seperti "sembahlah Kami" atau "berdo'alah kepada Kami" atau "tiada Tuhan selain kami". Melainkan "Sembahlah Aku" atau "berdoalah kepadaKu" atau "tiada Tuhan selain AKU" untuk menegaskan ketunggalan Allah. Contoh-contoh ayatnya bisa kita lihat dibawah ini
(Al-anbiyaa:25) "Tiada Tuhan selain AKU"
(Al-anbiyaa:92) "dan AKU adalah Tuhan kalian"
(Al-ankabut:56 "Hanya kepadaKUlah kalian menyembah"
(Ghafir:60) "berdo'alah kepadaKU maka akan KU perkenankan"

(Albaqarah:41) "....kepadaKU lah kalian bertaqwa"
(Albaqarah:152) "ingatlah kepadaKU, Aku akan ingat kalian, Bersyukurlah kepadaKU"
(Thaha:14) "Tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.."
(An-naml:9) """Hai Musa, sesungguhnya Akulah Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana," 

Rabu, 13 Januari 2016

Seperti apakah sosok yang disebut wali Allah? (waliyulah)

Ada mind-set yang tertanam disebagian orang bahwa yang disebut waliyullah itu adalah sosok orang alim bersurban dan berjubah besar, banyak santrinya, berbuat dan berkata yang aneh-aneh, dan penuh karomah (sakti) seperti bisa terbang, kebal senjata tajam, bahkan yang lebih parah... punya makhluk gaib yang bisa dikendalikan yg biasa disebut khodam. Na'udzubillah

Tentu semua pemahaman seperti ini tidak benar dan diluar alur pemahaman al-qur'an dan assunnah
Mari kita lihat penjelasan dibawah ini

Dalam surah Yunus 62-63 Allah berfirman : "(62) sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada ketakutan dan kekhawatiran pada mereka (63) yaitu orang2 yg beriman dan bertaqwa"

Masih satu gambar diatas, ayat dan hadits kami gabung
dalam tafsir Ibn katsir dalam tafsir ayat tsb mencantumkan hadits riwayat Ibn jarir ketika nabi ditanya siapakah mereka itu (wali Allah)
Rasulullah menjawab: "suatu kaum yg saling mengasihi karena Allah, bukan karena harta dan satu keturunan dst. Dan diakhir hadits tsb nabi membacakan surah Yunus ayat 62 tsb"

Tidak ada satupun dalil hadits yang menyatakan bahwa tanda waliyullah adalah selalu dengan perbuatan2 ajaib atau yg disebut karomah. Meskipun ada itu tidak mutlak Allah berikan kepada setiap mu'min dan muttaqin sesuai di Yunus:63. Allah akan memberikan bagi siapapun yang dikehendakiNya.