Laman

Rabu, 22 Maret 2017

Rasulullah tidak pernah pakai biji tasbih



Kita sering melihat baik di film-film atau kehidupan nyata seseorang tokoh agama berjubah, bersurban, dengan memegang biji tasbih di tangannya, seolah-olah benda tsb adalah sakral dan bagian dari sunnah nabi.
Padahal kalau mau diteliti, benda tsb tidak pernah ada di zaman rasulullah maupun tabiin. Benda itu mulai digunakan oleh kelompok sufi yang meniru agama lain, seperti pada Katolik disebut biji rosario, mereka menggunakan alat itu untuk "berdzikir". Hal yang sama pada Hindu dan Budha

Kita juga kerap menemukan benda ini di saudi, bahkan dijual di sekeliling masjidil haram atau masjid nabawi hingga sekarang, karena tidak bisa dipungkiri dahulu sufisme mendominasi tanah haram hingga setelah ulama-ulama mujaddid perlahan-lahan mengikis kebiasaan bid'ah khurafat tahayul dan syirik. Tapi untuk biji tasbih masih tetap ada saja yang menjual, karena banyak pendatang yang suka dengan benda tsb sebagai oleh-oleh, terutama jemaah indonesia sebagai jemaah terbesar dari asia.

Tulisan ini dibuat untuk memperjelas bahwa benda itu bukanlah bagian dari sunnah nabi, melainkan warisan agama lain. Tapi jika anda masih merasa nyaman menggunakan sebatas alat hitung tidak apa, asalkan jangan dianggap bagian dari sunnah apalagi dianggap bertuah seperti yang banyak dijual para dukun berkedok kyai. Kalau seperti itu sudah dikatakan kesyirikan karena dianggap tamimah (jimat), benda yang bisa memberi mamfaat secara ghaib.

Sama halnya dengan simbol bulan-bintang. Simbol tsb tidak pernah ada di zaman rasulullah. Logo itu nulai digunakan di masa kekhalifahan Utsmaniyah di Turki. Bendera yang digunakan para mujahid di zaman nabi adalah bendera berlafadz Tauhid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar