Laman

Selasa, 17 Desember 2019

Apakah meninggalkan sholat menjadi kafir?

Sebuah maksiyat yang paling mudah namun dosanya teramat besar yaitu meninggalkan sholat sebagai rukun islam utama. Apabila rukun utamanya sudah gugur, maka batal keislamannya.
Yakni seseorang yang sudah total meninggalkan sholat, tidak sholat sama sekali, baik dirumah apalagi di masjid. Berikut ini adalah beberapa dalil yang dikutip dari kitab Riyadus Sholihin dalam kitabul fadha'il berikut ini:

Hadits no.1078

وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُولُ : (( إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالكُفْرِ ، تَرْكَ الصَّلاَةِ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ .

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya batas antara seseorang dengan syirik dan kufur itu adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 82]

Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan, “Jika seseorang meninggalkan shalat, maka tidak ada antara dirinya dan kesyirikan itu pembatas, bahkan ia akan terjatuh dalam syirik. Istilah syirik dan kafir kadang bisa bermakna sama yaitu kafir kepada Allah.” (Syarh Shahih Muslim, 2:64)


Hadits no.1079

وَعَنْ بُرَيْدَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، عَنِ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلاَةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ )) رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) .

Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perjanjian yang mengikat antara kita dan mereka adalah shalat, maka siapa saja yang meninggalkan shalat, sungguh ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadirs ini hasan shahih.) [HR. Tirmidzi, no. 2621 dan An-Nasa’i, no. 464. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.]

 
Hadits #1080

وَعَنْ شَقِيقٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ التَّابِعيِّ المتَّفَقِ عَلَى جَلاَلَتِهِ رَحِمهُ اللهُ ، قَالَ : كَانَ أصْحَابُ محَمَّدٍ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لاَ يَرَوْنَ شَيْئاً مِنَ الأعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ . رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ في كِتَابِ الإِيْمَانِ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ .

Dari Syaqiq bin ‘Abdullah seorang tabi’in  yang disepakati kemuliaannya–semoga Allah merahmatinya–ia berkata, “Para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memandang kekafiran karena meninggalkan amal, kecuali shalat.” (HR. Tirmidzi dalam kitab Al-Iman dengan sanad yang shahih) [HR. Tirmidzi, no. 2622. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Dalam Sunan Tirmidzi disebutkan nama tabi’innya adalah ‘Abdullah bin Syaqiq]


Pendapat Para Sahabat dan Tabi’in Tentang Orang yang Meninggalkan Shalat

Para sahabat dan tabi’in menganggap meninggalkan shalat amat berbahaya bahkan mereka mengatakan orang yang tidak shalat bukanlah muslim.

Ibnu Zanjawaih mengatakan, ” ’Amr bin Ar Robi’ telah menceritakan pada kami, (dia berkata) Yahya bin Ayyub telah menceritakan kepada kami, (dia berkata) dari Yunus, (dia berkata) dari Ibnu Syihab, beliau berkata,” ’Ubaid bin Abdillah bin ‘Utbah (berkata) bahwa Abdullah bin Abbas mengabarkannya, ”Dia mendatangi Umar bin Al Khoththob ketika beliau ditikam (dibunuh) di masjid. Lalu Ibnu Abbas berkata, ”Aku dan beberapa orang di masjid membawanya (Umar) ke rumahnya.”

Ibnu Abbas berkata, ”Lalu Abdurrahman bin ‘Auf diperintahkan untuk mengimami para jama’ah.”

Kemudian beliau berkata lagi, ”Tatkala kami menemui Umar di rumahnya, maut hampir menghampirinya. Beliau tetap dalam keadaan tidak sadar hingga semakin parah. Lalu (tiba-tiba) beliau sadar dan mengatakan, ”Apakah orang-orang sudah melaksanakan shalat?”

Ibnu Abbas berkata, ”Kami menjawab, iya sudah.”

Lalu Umar mengatakan,

لاَ إِسْلاَمَ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ

“Orang yang meninggalkan shalat bukanlah muslim.”

Dari jalan yang lain, Umar berkata,

ولاَحَظَّ فِي الاِسْلاَمِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ

“Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Lalu Umar meminta air wudhu, kemudian beliau berwudhu dan shalat. (Riwayat ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Ash-Shalah, hlm. 41-42. Dikeluarkan oleh Malik, begitu juga diriwayatkan oleh Sa’ad dalam Ath-Thobaqot, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Iman. Diriwayatkan pula oleh Ad-Daruquthniy dalam sunannya, juga Ibnu ’Asakir. Hadits ini shahih, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul Gholil, no. 209.)


Bagaimana orang yang meninggalkan sholat sesekali dengan sengaja?

Hal ini termasuk yang disinggung dalam surah Al-ma'un. Yakni orang-orang yang lalai dengan sholatnya, dan tetap diancam neraka, meski statusnya tidak sama seperti kafir meninggalkan sholat secara total. 
Seandainya orang kafir KEKAL di neraka, kemungkinan orang-orang yang sesekali meninggalkan sholat akan "dibersihkan" di neraka selama ratusan tahun, ribuan tahun, jutaan tahun atau bahkan milyaran tahun tergantung seberapa banyak mereka meninggalkan waktu sholat. Karena di akhirat tidak ada lagi kematian, mereka bisa tinggal di neraka selama apapun tergantung keburukan amal mereka.

Wallaahu ta'aala a'lamu



Senin, 09 September 2019

Aku sembuh dari myasthenia gravis

Berawal pada awal April 2019, mata saya mengalami pandangan ganda (double vision) ketika melirik ke samping dan kebawah. Tapi pandangan lurus normal. Tapi lama kelamaan pandangan lurus pun jadi ganda. Melihat semua objek menjadi dua.
berikut ini ikhtiar saya ketika mengalami gejala penyakit myasthenia gravis yang awalnya saya tidak sadari saya mengalami hal tsb

4 April 2019 saya ke dokter saraf. dikatakan saya mengalami vertigo. Lalu saya diberi obat vertigo. Tapi kondisi bukan makin mebaik. Mata semakin parah
Saya merasa galau habis, ketika tanya mbah google, gejala ini bisa indikasi penyakit myasthenia gravis atau tumor otak. Dan yang paling saya benci adalah kalimat "can not be cured" (tidak bisa disembuhkan)

pada tgl diatas saya juga terapi bekam/hijamah. Dan tidak membuahkan hasil

8 April 2019 saya coba ke spesialis mata. Dan dikasih obat mata yang harus di konsumsi 2 minggu. Baru konsumsi beberapa hari saya stop, karena tidak ada perkembangan dan semakin parah

11 April 2019 ke dokter saraf lagi (dokter yang beda). Dan ini rumah sakit yg tergolong RS mahal di kota saya. Dan benar, dokter mengatakan saya mengidap myasthenia gravis. Lalu saya diberi obat.

Dalam benak saya, obat tsb bisa menyembuhkan (cukup mahal, saya tebus 800rb). Ternyata tidak, obat yang disebut Mestinon cuma untuk menghilangkan gejala sementara, jikalau kambuh harus minum lagi, dan terus begitu dikonsumsi seumur hidup..... WAH menurut ini justru bisa mengundang penyakit lain. Saya harus minum obat mahal tsb seumur hidup dan ketergantungan.

Parahnya, setelah minum obat tsb, mata saya yang awalnya cuma "ganda", diperparah dengan kelopak mata saya turun. walhasil pandangan saya sangat terganggu. Seolah2 saya merasa setengah buta.

13 April 2019 saya coba terapi akupunktur di RS tsb. Cukup mahal, sekali terapi 400ribu, itupun sepertinya sang akupunkturis seperti kurang ahli. Cuma beberapa titik di kepala, tangan dan kaki. tidak ada perubahan sama sekali. Sayapun seperti putus asa

15 April 2019 rencana untuk MRI (scan otak) di RS yang sama, tapi petugasnya sedang tidak ada jadi saya coba akupunktur lagi di tempat yang berbeda. lebih murah, cuma 200ribu sekali terapi dengan titik yang lebih banyak

Selesai akupukntur saya sangat senang, karena tiba2 mata saya yg awalnya agak tertutup, tiba2 bisa terbuka lebih lebar, tapi ternyata.....   itu sifatnya sementara. Karena sebelum terapi saya disuruh istri untuk minum mestinon. Jadi mata saya bisa terbuka bukan karena akupunktur, tapi karena efek obat mestinon. Saya merasa down lagi

16 April 2019 saya MRI di RS dan hasilnya otak saya "bersih" tidak ada tanda2 kelainan. Cukup mahal, 3,6 juta, tapi setidaknya lebih tenang, bahwa saya tidak mengidap kanker atau tumor otak.

18 April 2019 akupunkur lagi

20 April 2019 akupunktur lagi

22 April saya coba ke sinshe, diberi obat untuk di konsumsi sebulan... sayangnya obat untuk myasthenia gravis tidak ada, jadi saya diberi obat stroke. Karena mungkin dianggap gejalanya sama

Oh iya, saya sudah stop konsumsi Mestinon sejak 15 April. Saya anggap, konsumsi itu dalam jangka penjang adalah pembodohan, efeknya penyakit tidak akan sembuh dan ketergantungan dengan obat mahal tsb. Yang sangat diuntungkan adalah perusahaan produsen obat. Karena saya percaya, semua penyakit yang Allah turunkan, pasti ada obatnya

23 April 2019, bekam lagi

27 April, akupunkur lagi

saya coba minum minyak habbatussauda. Mulai 31 Mei 2019

14 mei akupunktur
setelah beberapa kali akupunktur (total 9 x), saya merasa tidak ada kemajuan berarti maka saya stop

selama itu, saya perbanyak istigfar, mohon ampunan kepada Allah, karena segala musibah adalah disebabkan dosa. Juga perbanyak sholawat, sholawat  yang paling bagus adalah sholawat ibrahimiyah (sholawat yang kita baca ketika sholat)
Ikhtiar lainnya dengan sedekah, karena sabda Rasulullah, sedekah bisa menyembuhkan penyakit. Ini adalah efek spiritual.
dan tentunya banyak berdoa di sepertiga malam terakhir, saya panjatkan doa ketika sujud memohon kesembuhan.... dibarengi minum minyak habbatussauda pagi dan malam. Alhamdulillah.... kondisi mata saya berangsur2 normal
dan tgl 18 Juli saya sudah bisa menyetir mobil keluar kota.